Tradisi Mudik Versus Larangan Mudik Lebaran 2021

Mudik menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia yang berkembang sejak zaman Kerajaan Majapahit, dimana masyarakat kala itu melakukan mudik pada masa panen raya, serta mudik pada zaman itu dilakukan dengan berjalan kaki menuju kampung halamannya. Mudik menjadi tradisi turun temurun hingga saat ini dan menjadi kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat  di Indonesia menjelang Lebaran atau sebelum perayan Idul Fitri.

Menurut Prof. Dr. Ibnu Hamad, M.Si yang merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, kata mudik berasal dari kata udik yang berarti kampung. Sementara itu Ahli Kajian Filsafat Indonesia, Jakob Sumardjo menyebut bahwa mudik berasal dari bahasa Jawa Moko, yakni mulih dhilik yang berarti pulang sebentar. Namun dalam pandangan Sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, mudik berasal dari kata menuju udik, dimana udik merupakan bagian selatan, karena pada zaman dahulu, di Batavia, pusat perekonomian berada di pesisir utara, sedangkan rumah para penduduk berada di selatan, sehingga munculah kata ilir mudik, yang berarti bolak balik.

Berdasarkan Kamus Bahasa Besar Indonesia (KBBI) arti mudik adalah  ke udik atau pulang ke kampung halaman. Semakin banyaknya penduduk yang merantau ke wilayah perkotan maka menjelang perayan Idul Fitri kembali ke kampung untuk bersilaturahmi bersama sanak saudara. Kemudian bagaimanan dengan kata lebaran? MA Salamun mengatakan dalam artikel yang dimuat di Majalah Sunda pada tahun 1954, istilah lebaran berasal dari tradisi umat Hindu, yang berarti selesai, usai, atau habis. Dalam hal ini menandakan berakhir atau habisnya masa puasa Ramadan.

Prof. Dr. Zamzani seorang Ahli Bahasa dari Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan, lebaran berasal dari bahasa Jawa yakni lebar yang berarti selesai dan usai. Namun ada pula yang menyebut lebaran berasal dari Bahasa Betawi dimana kata lebar berarti luas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata lebaran diartikan sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Apa pun versinya, mudik dan lebaran secara umum menjadi tradisi yang telah mengakar bagi masyarakat Indonesia, sehingga momen menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat kita melaksanakan mudik sebagai waktu berharga untuk pulang ke kampung halaman. Fenomena mudik menjadi hal yang sangat diharapkan para perantau untuk pulang ke kampung halaman, walaupun momen ini dilakukan hanya pada saat menjelang Idul Fitri. Masyarakat Indonesia mungkin yang paling banyak melakukan perjalanan pulang kampung di musim lebaran. Puluhan juta orang akan bepergian melintas antar pulau, hal ini menunjukkan betapa tradisi mudik ini sangat besar dan terus terjadi hingga saat ini.

Namun di sisi lainnya tradisi mudik bukan hanya terkait dengan perayaan Idul Fitri semata, melainkan erat kaitannya dengan  berbagai dimensi kehidupan manusia Indonesia. Dalam pengamatan penulis, terdapat tiga dimensi yang mengakibatkan masyarakat kita melakukan mudik. Pertama, mudik menjadi tradisi warisan yang dimiliki sebagian masyarakat Jawa atau yang disebut dengan dimensi spiritual- kultural, dimana dari sisi spiritual, mudik menjadi momen masyarakat untuk kembali ke kampung untuk berziarah dan mendoakan arwah keluarga yang telah mendahui mereka. Dari sisi kurtural, adanya kedekatan yang dimiliki para perantau untuk selalu kembali pada saat akan menjelang Idul Fitri menjadi budaya yang selalu dilakukan hingga saat walaupun hanya beberapa hari saja/sementara waktu.

Kedua, mudik menjadi bagian dari dimensi psikologis bagi para perantau, dimana dengan adanya mudik yang dilakukan untuk menghilangkan kepenatan, beban kerja dan tekanan kerja selama bekerja di kota dengan segala aktivitas yang dilakukan. Dengan bertemu dengan keluarga di kampung akan menghilangkan rasa stress dan beban kerja yang dialami, apalagi dengan suasana kampung yang asri dan indah akan mengobati kepenatan yang dialami. Ketiga, mudik menjadi bagian dari dimensi sosial, dimana dengan kembalinya dari perantauan, maka ada setumpuk cerita keberhasilan yang dapat disampaikan kepada keluarga yang dikunjungi di kampung halaman, atau saling berinteraksi antar sesama di kampung halaman.

Akan tetapi, dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini tradisi mudik menjadi sebuah rencana yang tidak dianjurkan pemerintah untuk dilakukan, sebab adanya larangan yang telah dikeluarkan pemerintah bagi seluruh masyarakat Indonesia pada masa sebelum dan sesudah Lebaran 2021. Pemerintah resmi melarang Mudik Lebaran 2021, dengan kebijakan sesuai arahan Presiden Joko Widodo serta Surat Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor S-21/MENKO/PMK/III/2021 tanggal 31 Maret 2021.  Pelarangan mudik Lebaran 2021 berlangsung selama 12 hari yaitu mulai tanggal 6-17 Mei 2021 bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN), BUMN, TNI-Polri, karyawan swasta maupun pekerja mandiri dan seluruh masyarakat.

Di sisi perhubungan, Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan tentang pengendalian transportasi selama masa Idul Fitri 1442 H/2021 dalam rangka penyebaran pencegahan penyebaran Covid-19. Hal tersebut seiring dengan Surat Edaran Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 No. 13/2021 tentang peniadaan mudik Hari Raya Idulfitri dan upaya pengendalian penyebaran Covid-19 selama Bulan Suci Ramadhan 1442 H.

Berdasarkan data Survei Balitbang Kemenhub terhadap potensi pemudik yang disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada Rapat Koordinasi Keamanan dan Penegakan Hukum Dalam Rangka menyambut Ramadan, Arus Mudik Idul Fitri Tahun 2021 /1442 Hijriah yang diselenggarakan di Gedung Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Senin (12/4/2021) lalu menyebutkan, bila pemerintah tidak mengeluarkan larangan mudik maka ada 33 % orang akan melakukan mudik atau 81 juta orang mudik pada libur panjang Lebaran 2021. Lalu Kemenhub Budi Sumadi menyebutkan apabila ada pelarangan mudik maka diperkirakan ada 11% atau 27, 63 juta orang akan melakukan mudik secara nasional. Dari data tersebut sebanyak 3,1 juta orang di Jabodetabek, sebanyak 4,4 juta orang di Jawa Tengah, 4,7 juta orang di Jawa Barat (Non Jabodetabek), sebanyak 989.091 orang di DI Yogyakarta, sebanyak 4,6 orang di Jawa Tengah dan 9,7 juta orang dari daerah lainnya di Indonesia.

Kemenhub juga mengungkapkan Jawa Tengah menjadi tujuan utama pemudik dengan persentase 37 % pemudik, diikuti Jawa Barat 23% dan Jawa Timur 14%. Sementara itu moda yang digunakan mayoritas pemudik diprediksi menggunakan mobil pribadi dengan 27,8%, pemudik atau 7,68 juta orang dengan 2,65 juta unit kendaraan. Ketatnya larangan mudik kali ini sangat menentukan target pemerintah kwartal ketiga tahun 2021 ini, yang menghendaki roda perekonomian nasional sudah harus mulai bergulir.

Dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, apakah kita tetap ngotot melakoni tradisi mudik yang setiap tahun telah kita lakukan, atau kita patuh terhadap larangan mudik sebagaimana telah ditetapkan pemerintah. Bertolak dari keinginan mudik tersebut, Penulis mengajak kita semua untuk tidak melakukan mudik ataupun piknik, karena niat yang baik untuk mengunjungi keluarga dapat berakibat fatal terhadap keluarga yang ada di kampung, karena mudik berarti menjumpai keluarga di kampung halaman yang umumnya berusia lanjut usia yang memiliki risiko terpapar virus corona lebih tinggi. Mudik bukan solusi yang tepat untuk dilakukan di masa pandemi saat ini. Semoga pandemi corona berlalu dan kehidupan normal dapat kembali kita raih.(***).

* Artikel ini telah terbit di Koran Rakyat Pos pada tanggal 16 April 2021

Penulis: 
Sentosa
Sumber: 
Dinas Perhubungan Babel
Error | Dinas Perhubungan

Error

The website encountered an unexpected error. Please try again later.