Efektivitas Penerapan Tilang Elektronik di Bangka Belitung

Apakah Anda sudah tahu apa itu ETLE? Mungkin banyak di antara kita yang belum mengenal benda apa itu ETLE. Di sini, ETLE yang penulis maksud adalah electronic traffic law enforcement (ETLE) atau yang sering disebut tilang elektronik.

ETLE merupakan kamera pengintai yang telah dipasang di persimpangan jalan raya, yang akan merekam segala aktivitas pengendara, kendaraan melintasi jalan raya, dan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara akan terekam di sistem terintegrasi, yang akan mencatat, mendeteksi, dan memotret pelanggaran di jalan raya melalui kamera Closed Circuit Television (CCTV). Apabila ada pelanggaran akan diberikan sanksi dengan tilang eletronik.

Tilang elektronik merupakan proses digitalisasi tilang dengan memanfaatkan teknologi informasi. Penerapan sistem E-tilang dimana seluruh proses tilang akan lebih efisien dan efektif tanpa adanya tawar menawar dilakukan apalagi sistem “damai” di tempat yang sering terjadi. Hal ini  bermanfaat membantu tugas kepolisian dalam proses penindakan atas pelanggaran lalu lintas dan meningkatkan ketaatan berlalu lintas serta mengurangi kecelakaan. Selain itu, faktor yang mempengaruhi tingkat kecelakaan berlalu lintas paling dominan adalah perilaku saat berkendara dan tingkat kesadaran terhadap peraturan berlalu lintas sangat kurang. Karena faktor kesadaran saat berkendaraan yang sangat kurang, maka Pemerintah Republik Indonesia (kepolisian) menerapkan sistem E-tilang. (Sarif et. al 2020).

Menurut Rahman (2020), dalam menanggulangi pelanggaran lalu lintas di jalan raya harus ada penegakan hukum bagi setiap pelanggar lalu lintas dengan memberikan sanksi berupa tilang yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam hal ini, tilang diberikan berupa surat tilang yang merupakan surat atas sanksi bagi pengemudi kendaraan bermotor diberikan oleh Polisi pada saat melakukan razia di jalan raya, dan pengemudi akan menerima surat tilang yang isinya sanksi diberikan kepada pelanggar dan harus menghadiri sidang tilang secara langsung ataupun diwakili dengan melakukan pembayaran denda yang telah ditentukan.

Pemberlakuan ETLE sebagai cara untuk menertibkan masyarakat dipersimpangan jalanan agar lebih taat aturan dalam berlalu lintas, sekaligus menjadikan hal ini lebih transparan. Program  ini, telah dilaksanakan Korlantas Polri secara nasional pada Selasa, 23 Maret 2021 lalu. Peluncuran ETLE sudah diberlakukan di 12 Polda  dengan 244 kamera ETLE.

Dikutip dari kompas.com bahwa penerapan tilang elektronik tahap pertama telah diberlaku di 12 Polda di Indonesia, dengan 244 kamera tilang elektronik baru yang telah terpasang di 12 Polda di Indonesia, meliputi: 98 titik di Polda Metro Jaya, 5 titik di Polda Riau, 55 titik di Polda Jawa Timur, 10 titik di Polda Jawa Tengah, 16 titik di Polda Sulawesi Selatan, 21 titik di Polda Jawa Barat,  8 titik di Polda Jambi, 10 titik di Polda Sumatera Barat, 4 titik di Polda Daerah Istimewa Yogyakarta,  5 titik di Polda Lampung, 11 titik di Polda Sulawesi Utara dan 1 titik di Polda Banten.

Sementara itu, ETLE di Bangka Belitung masih dalam tahap uji coba, dimana Dirlantas Polda Bangka Belitung masih mempersiapkan segala sesuatunya, dan uji coba penerapan ETLE telah ada di 4 (empat) titik yang difokuskan di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu Kota Pangkalpinang.  Empat titik uji coba ETLE tersebut yaitu simpang Kantor Gubernur, simpang Semabung, simpang Masjid Jamik dan simpang Kantor PT Timah Pangkalpinang.

Ditlantas Polda Bangka Belitung saat ini, sedang merampungkan pemasangan peralatan pendukung di beberapa titik lokasi, sehingga ke depan dapat dipergunakan dan penerapan e-tilang segera dilaksanakan.

Lalu, bagaimana proses penerapan tilang elektronik yang telah diberlakukan di beberapa daerah yang ada di Indonesia? Penulis melansir dari https://etle-pmj.info/id/tentang-etle/mechanism sebagai contoh yang diberlakukan Polda Metro Jaya, mekanisme pemberlakuan tilang ada 5 (lima) tahapan, yaitu tahap 1, perangkat secara otomatis menangkap pelanggaran lalu lintas melalui monitor pengawas  dan mengirimkan rekaman barang bukti atas pelanggaran ke back office ETLE di RTMC Polda Metro Jaya. Tahan 2, petugas melakukan identifikasi data kendaraan pelanggar dengan menggunakan Electronic Registration & Identifikasi (ERI). Tahap 3, petugas mengirimkan surat konfirmasi atas pelanggran yang dilakukan ke alamat pemilik kendaraan bermotor sesuai dengan alamat yang terdaftar di STNK pemilik untuk pemberitahuan dan permohonan konfirmasi atas pelanggaran yang terjadi. Tahap 4 pemilik kendaraan melakukan konfirmasi via website yang telah disediakan atau datang langsung ke kantor Sub Direktorat Penegakan Hukum. Pada tahap 5, petugas menerbitkan tilang bagi pelanggara yang telah terverifikasi melalui via BRIVA yang mencantumkan pasal yang dilanggar, tanggal kejadian, lokasi pelanggaran serta tautan situs web konfirmasi dan tanggal sidang.

Perlu diketahui, apabila terjadi gagal melakukan konfirmasi, maka Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) atas nama pemilik kendaraan akan diblokir sementara. Dalam hal terjadinya kegagalan konfirmasi dapat terjadi apabila pemilik kendaraan/pelanggar telah pindah alamat, serta adanya transaksi jual beli kendaraan (perpindahan kepemilikian), atau terjadi kesalahan atau tidak dilakukannya pembayaran denda.

Dikutip dari https://etle-pmj.info/id/discussion, bahwa konfirmasi pelanggaran berlaku selama delapan hari, dan batas waktu terakhir pembayaran tilang ialah 15 hari dari tanggal pelanggaran yang dilakukan. Apabila anda melakukan konfirmasi melalui website, maka anda akan menerima email konfirmasi, dan email terkait tanggal dan lokasi pengadilan. Lalu anda akan mendapatkan SMS yang berisi kode BRIVA dengan nominal denda pelanggaran yang dilakukan. Apabila anda telah membayar denda maka anda tidak perlu datang ke sidang.  

Ada lima jenis pelanggaran yang menjadi target tilang elektronik dengan denda berbeda-beda, yaitu menggunakan gawai pada saat mengendarai kendaraan dipersimpangan jalan yang terdapat ETLEnya. Tidak menggunakan helm sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), bagi pengemudi dan penumpang kendaraan mobil di bagian depan harus menggunakan sabuk pengaman, melakukan pelanggaran rambu dan marka bagi pengendara kendaraan, dan yang terakhir adalam menggunakan plat atau tanda nomor kendaraan palsu.

Lalu, bagaimana dengan efektivitas penerapan tilang elektronik tersebut bagi masyarakat Bangka Belitung? Tentunya untuk efektif atau tidak untuk di wilayah Bangka Belitung yang merupakan wilayah kepulauan, sampai saat ini belum bisa dilihat dan dirasakan. Sebab, program ini, khusus untuk Bangka Belitung belum diberlakukan, dikarenakan keterbatasan sarana dan prasana.

Kapolda Bangka Belitung, Irjen Pol Anang Syarif Hidayat kepada wartawan, usai peletakan batu pertama pembangunan Kantor Sat PJR Ditlantas Polda Bangka Belitung, Jumat (26/3/2021) lalu, sebagaimana dikutip melalui rakyatpos.com, 28 Maret 2021 menyebutkan, tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement di wilayah hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Kepulauan Bangka Belitung  untuk saat ini masih belum bisa diterapkan. Pasalnya, ketersediaan sarana dan prasarana ETLE masih belum memungkinkan. "Fasilitas ETLE ini kita belum ada. Jadi, kita sementara masih manual dulu seperti yang lama," kata Irjen Pol Anang Syarif Hidayat.

Polda, dikatakan Anang Syarif, akan menggandeng pemerintah daerah, baik kota maupun provinsi dengan mengadakan diskusi untuk bisa bekerja sama menyiapkan tilang elektronik ini. Menurut Kapolda, ETLE ini sangat bagus untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Bahkan jika kita melihat rilis terkait dengan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di jalan raya, di Bangka Belitung, masih saja terjadi. Sementara personel aparat penegak hukum terkait lalu lintas jumlahnya terbatas. Maka, untuk mengatasi persoalan tersebut, menurut penulis, memang cukup efektif menerapkan tilang secara elektronik kepada pengendara yang melanggar lalu lintas.

Kita sebagai masyarakat pengendara, yang tadinya kurang disiplin dalam berkendaraan di jalan raya, mulai sekarang mari tingkatkan kepatuhan terhadap peraturan berlalu lintas. Tak perlu harus menunggu tilang elektronik diberlakukan. Tanamkan kesadaran pada diri sendiri, bahwa ketika kita melanggar peraturan yang telah ditetapkan, maka kita akan rugi. Bahkan yang dirugikan akibat ulah kita tidak disiplin berlalu lintas bukan hanya diri kita sendiri, namun juga pengendara di jalan raya lainnya. (***).

* Artikel ini sudah terbit di Koran Rakyat Pos pada tanggal 31 Maret 2021

Penulis: 
Sentosa
Sumber: 
Dinas Perhubungan Babel
Error | Dinas Perhubungan

Error

The website encountered an unexpected error. Please try again later.